Minggu Kelam di Priangan: Dari Keracunan Massal hingga Penipuan Berkedok Program Sosial
Sukabumi- Wilayah Priangan diguncang oleh serangkaian peristiwa mencengangkan sepanjang pekan lalu. Berita duka datang dari dunia pendidikan, sementara aksi kriminalitas menunjukkan modus yang kian berani. Mulai dari tragedi keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga penipuan beras yang memanfaatkan nama baik program yang sama. Simak rangkuman lengkapnya berikut ini.

Baca Juga : Gempa Magnitudo 4.0 Guncang Sukabumi Dini Hari
1. Tragedi Keracunan MBG: 672 Pelajar Garut & Tasikmalaya Jadi Korban, Diduga Akibat Kelalaian Proses
Program pemerintah yang mulia, Makan Bergizi Gratis (MBG), berbalik menjadi mimpi buruk bagi ratusan keluarga di Garut dan Tasikmalaya. Dalam insiden keracunan massal terbesar belakangan ini, total 672 pelajar dilaporkan mengalami keracunan usai menyantap hidangan MBG.
Kronologi yang Mencemaskan:
Di Garut, kasus berawal dengan 150 korban dari tiga sekolah. Gejala awal relatif ringan: mual, muntah, dan pusing. Empat belas pelajar pertama harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, alih-alih mereda, angka korban justru meledak, jumlahnya membengkak menjadi 194 orang, dan memuncak dengan 657 pelajar menjadi korban. Sementara itu, di Tasikmalaya, 15 pelajar PAUD dan SD juga mengalami nasib serupa pada Kamis malam.
Menu yang disantap terlihat lezat dan bergizi: nasi liwet, ayam woku, tempe orek, timun, selada, dan stroberi. Namun, di balik lezatnya menu, tersimpan dugaan kelalaian yang fatal.
Temuan Mengejutkan dari DPRD:
Anggota Komisi IV DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan, turun langsung menyelidiki. Hasilnya mengungkap beberapa titik kritis yang diduga menjadi biang keracunan:
-
Air Pencuci yang Tidak Higienis: Proses pencucian bahan mentah seperti ayam, timun, dan selada diduga menggunakan air keran yang kualitas kebersihannya dipertanyakan, memicu kontaminasi mikrobiologis.
-
Jeda Waktu Masak dan Makan yang Terlalu Lama: Ini adalah titik terlemah. Makanan yang selesai dikemas pukul 05.00 pagi baru disantap pelajar PAUD/TK/SD 4 jam kemudian. Bahkan lebih parah untuk pelajar SMP/SMA yang menyantapnya setelah 6-7 jam menunggu! Padahal, makanan seharusnya tidak disimpan dalam suhu ruang lebih dari 2 jam.
-
Penyimpanan Ayam yang Keliru: Dugaan kuat bahwa ayam tidak disimpan pada suhu yang aman sebelum dimasak, mempercepat pertumbuhan bakteri.
“Ini menjadi perhatian serius bagi kami di DPRD. Nyawa dan kesehatan siswa adalah hal yang tidak bisa ditawar,” tegas Yudha.
Menyikapi tragedi ini, Sekda Jawa Barat Herman Suryatman menyampaikan permohonan maaf yang mendalam. “Program ini bagus, tapi tak ada gading yang tak retak. Kami akan lakukan evaluasi menyeluruh. Atas nama Pemprov Jabar, kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat, terutama para siswa yang menjadi korban,” ucap Herman dengan wajah prihatin.
2. Preman “Obay” yang Berulah: Jambret Kalung Lansia & Anak Kecil Akhirnya Diciduk Polisi
Warga Garut, khususnya di Kecamatan Kadungora dan Leles, boleh sedikit lega. Baban Robani (28), preman berjuluk “Obay”, akhirnya berhasil diringkus polisi. Pria bertato ini ditangkap kurang dari 24 jam setelah melakukan aksi pencurian dengan kekerasan (jambret).
Korbannya adalah seorang nenek, Jubaedah (65). Obay menyasar sang nenek yang sedang sendirian di rumahnya di Kampung Lembur Kaler. Dengan paksa, ia merampas kalung emas seberat 8,9 gram milik Jubaedah, yang nilainya sekitar Rp 8,5 juta. Aksi brutal itu meninggalkan luka di leher sang korban.
Tak berhenti di situ, Obay juga mengaku telah menjambret kalung emas milik seorang anak kecil di Leuwigoong sehari sebelumnya. Hasil jarahannya ia jual ke Rancaekek, Bandung, dan uangnya ia habiskan untuk foya-foya. Polisi berhasil menyita motor dan sisa uang Rp 2 juta. Obay, yang merupakan residivis kasus pengeroyokan, kini terancam hukuman 7 tahun penjara.
3. Skandal Penggelapan Dana Talang: Eks Kepala BPBD Pangandaran Ditahan Usai Pensiun
Drama hukum menimpa Kustiman (K), mantan Kepala BPBD Pangandaran. Baru saja merasakan masa purnatugas sebagai ASN pada Maret 2025, pria ini justru harus berurusan dengan KPK dan ditahan sebagai tersangka penggelapan dana talang (dalang) senilai Rp 430 juta.
Modusnya adalah menawarkan “fee” 15% kepada korban (W) untuk menjadi penyedia dana talang kegiatan Jambore dan Bimtek BPBD 2023. Agar meyakinkan, K bahkan menunjukkan Dokumen Perencanaan Anggaran (DPA). Namun, bukannya menyalurkan dana untuk kegiatan, uang tersebut justru digelapkan untuk kepentingan pribadi dan melunasi utang dinas.
Polisi tidak hanya menahan K, tetapi juga tiga orang lainnya: mantan staf BPBD (M dan D) dan seorang mantan anggota DPRD Ciamis (B). Salah satu tersangka sempat kabur ke Cilacap sebelum akhirnya diringkus. Kasus yang merusak citra birokrasi ini masih terus diselidiki secara mendalam.
4. Ngidam Unik Ibu Hamil di Tasikmalaya: Ingin Naik Truk Razia Satpol PP
Di tengah berita-berita berat, sebuah cerita unik dan menghangatkan hati datang dari Tasikmalaya. Novi Ramadani (21), seorang ibu hamil 8 bulan, memiliki ngidam yang tak biasa: ia ingin naik truk Satpol PP sambil membayangkan ikut melakukan razia.
Keinginan ini sudah ia pendam sejak masih bekerja di Tangerang. “Pengennya kayak gini, aku naik mobil Satpol PP, tapi sambil razia, mengejar orang-orang yang jualan di pinggir jalan,” ujar Novi sambil tertawa. Suaminya, Farian Rahmat (23), tentu saja sempat pusing dibuatnya.
Dengan nekat, Novi menghubungi admin Satpol PP Kota Tasikmalaya melalui nomor layanan cepat tanggap. Dan di luar dugaan, permintaannya dikabulkan!, Novi dan suaminya dipersilakan naik ke atas truk Dalmas dan diajak berkeliling kota. “Sekarang ya senanglah, sudah kesampaian,” ujarnya dengan senyum sumringah.
Kepala Seksi Ketertiban Umum Sandi Sugih membenarkan kejadian langka ini. “Ini mungkin bawaan jabang bayi. Kami apresiasi antusiasme masyarakat dan siap membantu semampu kami,” katanya. Sebuah bukti bahwa pelayanan publik bisa hadir dengan cara yang humanis dan menyenangkan.
5. Tragedi Modus Baru yang Menyedihkan: Komplotan Penipu Beras Mengatasnamakan Program MBG
Ironi terbesar pekan ini adalah bagaimana program MBG yang sudah ternoda oleh keracunan, juga menjadi alat untuk kejahatan penipuan. Satreskrim Polres Ciamis berhasil membongkar komplotan penipu yang memanfaatkan nama MBG untuk mengelabui pedagang beras.
Modusnya canggih: pelaku (R) menghubungi korban via media sosial, mengaku sebagai penyedia logistik MBG di Cihaurbeuti, Ciamis. Untuk lebih meyakinkan, mereka bahkan menyewa kontrakan persis di sebelah dapur MBG setempat! Korban yang tertarik kemudian mengantarkan 1,3 ton beras (senilai Rp 17 juta). Kasus ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk lebih waspada dan melakukan verifikasi yang ketat.





