, ,

Kabupaten Sukabumi Tingkatkan Ketangguhan Hadapi Bencana dengan Bentuk FPRB

oleh -538 Dilihat

Kolaborasi Mitigasi: BPBD Sukabumi Resmikan Forum Pengurangan Risiko Bencana, Wujudkan Ketangguhan Berbasis Komunitas

Diskusi Sukabumi– Kabupaten Sukabumi, dengan pesona alamnya yang memukau, menyimpan dinamika geologis dan hidrometeorologis yang kompleks. Diapit oleh zona aktif dan curah hujan yang tinggi, wilayah ini tak henti-hentinya berhadapan dengan ancaman banjir, longsor, dan pergerakan tanah. Dalam menghadapi realitas ini, pendekatan tanggap darurat saja tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah sebuah sistem yang proaktif, terintegrasi, dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengambil langkah strategis dan visioner dengan secara resmi membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tingkat Kabupaten Sukabumi. Peresmian yang berlangsung pada Kamis, 4 September 2025, di Pusbangdai Cikembang, Kecamatan Cikembar, ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah deklarasi komitmen kolektif untuk membangun ketangguhan.

Melampaui Tanggap Darurat: Filosofi di Balik Pembentukan FPRB

Dalam sambutannya, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menekankan esensi dari kolaborasi. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dalam mitigasi, penanganan darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana,” ujarnya. Pernyataan ini menyentuh jantung dari manajemen bencana modern: bahwa keselamatan adalah urusan bersama.

FPRB hadir sebagai jembatan yang menghubungkan otoritas pemerintah dengan denyut nadi masyarakat dan semangat para relawan. “Dengan adanya FPRB, komunikasi dan konsolidasi akan lebih mudah dilakukan,” tambah Deden. Forum ini akan menjadi pusat komando non-formal untuk menyelaraskan setiap langkah, mulai dari peringatan dini, evakuasi, hingga pemulihan.

Kabupaten Sukabumi Tingkatkan Ketangguhan Hadapi Bencana dengan Bentuk FPRB
Kabupaten Sukabumi Tingkatkan Ketangguhan Hadapi Bencana dengan Bentuk FPRB

Baca Juga: Senyum Optmis Disperkim Lanjutkan Program Pembangunan untuk Warga

Terlebih, momentum pembentukannya sangat tepat, menyongsong musim penghujan yang kerap memicu bencana hidrometeorologis. FPRB akan mempermudah penyebaran informasi mitigasi dan imbauan secara lebih cepat, terstruktur, dan menjangkau hingga ke tingkat grassroots.

Mengurai Kompleksitas Kerentanan Sukabumi

Data BPBD menunjukkan bahwa hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Sukabumi memiliki “sidik jari” kerentanan bencana yang berbeda-beda. Ada wilayah yang lebih rentan banjir bandang, lainnya memiliki tebing-teging yang rentan longsor, dan beberapa area memiliki potensi pergerakan tanah.

“Kabupaten Sukabumi memang daerah kompleks rawan bencana. Karena itu, masyarakat harus lebih memahami potensi di wilayahnya agar lebih siap menghadapi kemungkinan bencana itu terjadi,” jelas Deden Sumpena.

Di sinilah peran krusial FPRB bekerja. Forum ini tidak hanya menjadi corong informasi dari atas ke bawah, tetapi juga menjadi telinga yang mendengarkan pengetahuan lokal (local wisdom). Seorang petani di lereng gunung mungkin lebih paham tanda-tanda awal longsor daripada sebuah teori. Seorang sesepuh kampung mungkin tahu jalur evakuasi alternatif yang tidak terpetakan. FPRB akan menjadi wadah untuk mengumpulkan, memvalidasi, dan membagikan pengetahuan berharga ini.

Kolaborasi Pentahelix: Kekuatan Sinergi Lima Pilar

Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, yang hadir memberikan apresiasi, melihat FPRB dengan perspektif yang lebih luas. Ia menyebutnya sebagai “wadah kolaborasi berbasis pentahelix”.

Apa itu Pentahelix? Ini adalah model kolaborasi yang melibatkan lima unsur utama:

  1. Pemerintah (Government): Sebagai regulator dan fasilitator utama.

  2. Dunia Usaha (Business): Membawa sumber daya, CSR, dan inovasi teknologi.

  3. Akademisi (Academia): Menyumbang penelitian, analisis risiko, dan pendidikan kebencanaan.

  4. Masyarakat (Community): Sebagai subjek sekaligus objek utama yang harus tangguh.

  5. Media (Media): Berperan crucial dalam menyebarkan informasi yang akurat dan mendidik.

“Deklarasi FPRB Kabupaten Sukabumi menjadi tonggak penting dalam pengurangan risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” tegas Ade. Keberhasilan pembentukannya adalah bukti nyata kerja bersama seluruh pihak.

Apa Arti FPRB bagi Warga Sukabumi? Sebuah Harapan Konkret

Lalu, bagaimana kehadiran FPRB akan dirasakan oleh warga biasa di Sukabumi?

  1. Informasi yang Lebih Cepat dan Akurat: Masyarakat akan mendapatkan informasi peringatan dini dan imbauan mitigasi melalui channel yang terpercaya dan terkoordinir, mengurangi hoaks dan kepanikan.

  2. Pelatihan dan Edukasi yang Merata: FPRB akan memfasilitasi pelatihan kesiapsiagaan bencana, seperti simulasi gempa, latihan evakuasi banjir, dan pemahaman peta risiko, hingga ke tingkat desa dan sekolah.

  3. Partisipasi Aktif Masyarakat: Warga tidak lagi menjadi objek pasif, tetapi menjadi agen-agen penanggulangan bencana. Mereka dapat terlibat dalam pemantauan lingkungan, menjadi relawan terlatih, dan memberikan masukan berdasarkan kondisi lapangan.

  4. Penanganan yang Lebih Terpadu: Saat bencana terjadi, koordinasi antara relawan, TNI/Polri, dinas-dinas terkait, dan BPBD akan lebih lancar, sehingga bantuan dapat tepat sasaran dan waktu.

  5. Pemulihan yang Berkelanjutan: Pasca-bencana, FPRB dapat membantu memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan dengan prinsip “build back better” (membangun kembali dengan lebih baik), sehingga masyarakat tidak hanya pulih tetapi juga lebih tangguh.

Menatap Ke Depan: Dari Deklarasi Menuju Aksi Nyata

Peresmian FPRB adalah awal yang gemilang. Namun, perjalanan masih panjang. Tantangan selanjutnya adalah memastikan forum ini tidak hanya hidup di atas kertas, tetapi benar-benar berdenyut dalam setiap kebijakan dan aksi di lapangan.

Keberlanjutan FPRB akan ditentukan oleh komitmen berkelanjutan dari semua pihak, pendanaan yang memadai, dan sistem evaluasi yang transparan. Masyarakat Sukabumi pun kini memiliki tanggung jawab untuk terlibat aktif, menyuarakan kebutuhan, dan bersama-sama mengawal forum ini menjadi motor penggerak ketangguhan bencana.

Dengan kolaborasi pentahelix yang digaungkan, FPRB Kabupaten Sukabumi memiliki potensi besar untuk menjadi model nasional dalam pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Langkah ini membuktikan bahwa di Sukabumi, mitigasi bencana bukan lagi tentang saling menyalahkan, tetapi tentang saling menguatkan.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.