Misteri Batu Penjaga Samudra di Curug Sodong, Pesan Purba dari Geopark Ciletuh
Sukabumi- Di jantung Geopark Ciletuh yang tersohor, di mana hijau membentang dan suara alam berbicara, tersembunyi sebuah rahasia yang terjaga oleh waktu. Di balik gemuruh dua air terjun kembar Curug Sodong, sebuah bongkahan batu purba berdiri tegak di tepi jurang, bagai seorang penjaga yang abadi. Bagi yang hanya melihat, ia adalah formasi batuan yang unik. Namun, bagi warga setempat dan kearifan lokal yang hidup turun-temurun, batu ini adalah “Sang Penjaga” Laut Selatan—penanda alam yang diam-diam mengawasi gelora samudra.

Baca Juga : Sebuah Lelucon Yang Tercatat Di Koran Kolonial
Pertemuan antara Mistis dan Geologi
Memasuki kawasan Curug Sodong bagaikan melangkah ke dunia lain. Udara segar, gemericik air, dan kabut halus yang membasahi wajah menyambut setiap pengunjung. Dua tirai air jernih mengalir deras dari ketinggian tebing sekitar 20 meter, menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Namun, pandangan segera tertuju pada sebuah siluet yang tak biasa: sebongkah batu raksasa yang tampak menggantung di tepi tebing, seolah-olah ditahan oleh tangan tak kasat mata.
“Kami menyebutnya Batu Penjaga,” ujar Anwar, seorang warga Desa Ciwaru yang telah puluhan tahun hidup berdampingan dengan curug ini. Sambil duduk di bebatuan sungai yang basah, matanya menatap penuh makna ke arah batu tersebut. “Sejak zaman kakek nenek buyut kami, keyakinan ini dipegang teguh: jika suatu hari batu itu runtuh, itu adalah tanda bahwa Laut Selatan akan murka dan airnya akan naik ke daratan.”
Namun, Anwar dengan cepat meluruskan. “Ini bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dihormati. Itu adalah cara alam berkomunikasi dengan kami.”
Keyakinan yang awalnya terdengar seperti dongeng pengantar tidur ini ternyata mendapatkan pengakuan yang tak terduga. Pengelola Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, yang diakui oleh UNESCO, secara resmi mengangkat cerita ini bukan sebagai tahayul, melainkan sebagai ‘GeoMyth’—sebuah mitos geologi.
Papan Penjelasan yang Membuka Mata: Dari Legenda ke Sains
Tak jauh dari lokasi air terjun, sebuah papan informasi besar bertuliskan #GeoMyth berdiri kokoh. Di sinilah legenda dan sains berjabat tangan. Papan tersebut menjelaskan bahwa batu tersebut, yang secara geologis terbentuk dari proses alam selama jutaan tahun, memiliki posisi yang sangat stabil. Arus sungai sekuat apapun tidak cukup untuk menggesernya.
Lalu, apa yang bisa menjatuhkannya?
Jawabannya adalah: guncangan bumi yang sangat besar, seperti gempa tektonik berkekuatan tinggi.
Dan di sinilah letak kecerdasan kearifan lokal tersebut. Gempa besar di zona subduksi Laut Selatan Jawa berpotensi memicu tsunami. Dengan kata lain, kejatuhan batu tersebut—yang hanya mungkin disebabkan oleh gempa dahsyat—secara tidak langsung menjadi early warning system alami bagi masyarakat akan datangnya bencana besar dari lautan. Mitos “batu jatuh, laut naik” ternyata adalah sebuah bentuk primitif dari pemahaman sismologi yang diwariskan lewat bahasa budaya.
Perjalanan Menuju Sang Penjaga
Untuk menyaksikan sendiri kemegahan Batu Penjaga ini, perjalanan menuju Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, adalah sebuah petualangan tersendiri. Jaraknya sekitar 45 km dari Pelabuhanratu, menawarkan pemandangan hijau perbukitan dan jalanan yang berkelok.
Sebagai destinasi utama di geopark berkelas dunia, aksesnya terbilang sangat terjangkau. Cukup dengan tiket masuk Rp 12.000 per orang, kita sudah bisa menikmati keajaiban alam ini dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB setiap hari.
Dari area parkir, keindahan Curug Sodong sudah langsung menyapa. Jalur setapak yang tanahnya basah oleh percikan air membimbing pengunjung mendekati kaki air terjun. Di sinilah pemandangan menjadi paling dramatis. Kabut air yang berkilauan kerap memeluk pelangi mini di antara dua aliran air. Dan di latar belakangnya, dengan latar suara yang menggema, Sang Batu Penjaga berdiri tegak, menjadi silent guardian yang membuat siapapun yang memandangnya terpaku, antara kagum dan merenung.
Beberapa pengunjung sibuk mengabadikan momen, sementara yang lain hanya duduk diam, mencoba menangkap ‘energi’ atau sekadar membayangkan betapa tuanya batu itu telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
Sebuah Renungan di Bawah Gemuruh Air
Bagi pengelola geopark, kisah Batu Penjaga Curug Sodong adalah aset berharga. Ia tidak disangkal, melainkan dipelihara dan dijadikan alat edukasi yang powerful. Cerita rakyat semacam ini, yang dikenal sebagai geomythology, membuktikan bahwa nenek moyang kita adalah pengamat alam yang cermat. Mereka mencatat fenomena geologi—seperti gempa, tsunami, dan erosi—ke dalam bingkai cerita yang mudah diingat dan diwariskan.
Hijau Sebelum mengakhiri percakapan, Anwar berbagi sebuah renungan yang dalam. “Orang kota mungkin datang dengan alat ukur dan teori. Itu bagus. Tapi bagi kami, melihat batu itu tergantung begitu saja, lalu mendengar gemuruh air selama ribuan tahun… itu mengingatkan kita untuk tidak sombong. Alam selalu punya cara untuk menjaga keseimbangannya, dan kita hanya bagian kecil di dalamnya.”
Jadi, bila Anda berkunjung ke Curug Sodong, jangan hanya melihat dan berfoto. Berdirilah sejenak. Dengarkan gemuruh air, pandanglah batu purba itu, dan resapilah pesannya yang abadi: dalam diamnya batu dan derunya air, tersimpan kearifan yang menuntun kita untuk hidup harmonis dengan bumi yang perkasa ini.





