Potret Miris Pendidikan di Sukabumi: Bertaruh Nyawa di Balik Tembok Sekolah yang Retak
Diskusi Sukabumi– Di sebuah sudut Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pahlawan tanpa tanda jasa dan para penerus bangsa justru berjuang melawan ketakutan mereka sendiri. Perjuangan mereka bukan hanya melawan kesulitan soal matematika atau hafalan ayat, tetapi melawan ancaman reruntuhan genteng dan tembok yang siap menjatuhi mereka setiap saat. Ini adalah potret suram dunia pendidikan di RA, MD, dan MTs Miftahul Barokah, Kampung Gempol, Desa Cikadu, dimana mencari ilmu sama artinya dengan mengancam nyawa.
Puluhan siswa di sana terpaksa menjalani kenyataan pahit: menuntut ilmu di dalam kelas yang nyaris ambruk. Bangunan sekolah mereka telah menjadi korban dari bencana pergerakan tanah yang melanda daerah itu sejak awal 2024. Retakan-retakan lebar di dinding, genteng yang melorot, dan lantai yang berubah bentuk adalah pemandangan sehari-hari yang harus mereka hadapi, sebuah latar belakang yang sangat kontras dengan semangat belajar yang seharusnya cerah dan penuh harapan.
Derita Orang Tua: Dilema antara Pendidikan dan Keselamatan
Ratih Purnamasari, seorang ibu dengan raut wajah yang tak pernah lepas dari kecemasan, menunggu di luar pagar sekolah yang sudah reyot. Setiap detik anaknya berada di dalam kelas, adalah setiap detik pertaruhan baginya.
“Sekolah di sini, RA kelas B, iya, tiap hari saya khawatir. Apalagi kalau anak-anak main dan lari-lari, takut tertimpa sesuatu. Gentengnya juga sudah mau roboh,” keluhnya pada Selasa (9/9/2025) lalu. Suaranya gemetar, menggambarkan beban yang tak terkatakan yang dipikulnya dan para orang tua lainnya.
Ratih bercerita, bencana ini telah memutus mata rantai pendidikan anak-anak mereka selama tujuh bulan yang penuh ketidakpastian. “Sempat mondar-mandir dan tidak jelas karena tidak ada tempat. Pernah belajar di tenda, tapi anak-anak kehujanan sampai menangis, lalu kepanasan di dalam tenda,” lanjutnya, mengisahkan betapa daruratnya situasi yang mereka alami.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5343517/original/027914900_1757425772-102256.jpg)
Baca Juga: Lapangan Yon Armed 10: Pijakan Awal Depok Mengejar Tiket ke Porprov 2026
Dilema pun menghampiri. Ia sempat mengungsi ke rumah mertua untuk menyelamatkan keluarga, namun akhirnya memilih kembali ke rumahnya yang berisiko. Alasannya sederhana namun menyentuh: “Tidak enak tinggal di rumah mertua, terus menumpang. Lebih enak di rumah sendiri, dan ke sekolah juga jauh dari rumah mertua. Di sini dekat, jadi terpaksa balik lagi.” Harapannya hanya satu: anak-anaknya bisa bersekolah di tempat yang layak, aman, dan nyaman.
Suara Hati Para Pelajar: Belajar dalam Balutan Ketakutan
Kekhawatiran itu tidak hanya dirasakan orang tua, tetapi juga menghantui pikiran para siswa. Maria, seorang siswi kelas 9, dengan jujur mengungkapkan ketakutannya. “Tidak nyaman, takut. Soalnya kemarin gentengnya ada yang turun dan masuk ke dalam karena rembesan air hujan,” tuturnya.
Bukan hanya sekolah formal, pesantren tempat ia menggali ilmu agama juga tak luput dari kerusakan. Genteng, tembok, hingga lantai—semuanya menunjukkan tanda-tanda kehancuran. Di usia yang seharusnya penuh dengan impian dan eksplorasi, Maria dan teman-temannya justru diingatkan akan kerapuhan setiap hari. “Harapannya bisa pulih secepatnya,” ucapnya dengan nada haru, sebuah harapan yang seharusnya tidak perlu ia ucapkan.
Guru yang Mengajar dengan Hati Berdebar
Di garis depan, para guru juga menjalankan tugasnya dengan perasaan was-was. Usup Supriatman, salah seorang pengajar, merasakan betul betapa menggetarkannya situasi ini. “Dinding sampai belah-belah. Rasanya deg-degan dan was-was jika kami sedang mengajar atau murid-murid tertimpa reruntuhan,” jelasnya.
Sebuah insiden genteng jatuh pernah terjadi. Namun, di tengah kesedihan, ada secuil berkah yang patut disyukuri. Peristiwa itu terjadi pada jam istirahat, sehingga tidak ada satu pun siswa yang menjadi korban. “Bisa dibayangkan jika itu terjadi saat jam pelajaran,” ujar Usup, sambil menghela napas lega yang masih bercampur trauma.
Normalisasi Darurat dan Jeritan Bantuan yang Masih Terdengar Lirih
Kegiatan belajar mengajar kini berjalan kembali pasca libur Lebaran dan tahun ajaran baru. Namun, “normal” di sini memiliki makna yang sangat berbeda. “Untuk sementara ini karena cuaca kemarau, alhamdulillah. Tapi kalau hujan, kami paling membubarkan murid karena khawatir,” ungkap Usup. Pendidikan mereka sangat bergantung pada kemurahan cuaca.
Masalahnya merambah ke ranah tempat tinggal. Meski ada anjuran relokasi dari pemerintah, realitanya tak semudah itu. Usup, yang rumahnya relatif lebih aman, bercerita tentang tetangganya yang terpaksa mengontrak dengan biaya sendiri karena ketidakpastian program Data Tunggu Hunian (DTH). “Banyak yang mengontrak, tapi bayar masing-masing pribadi. Bahkan ada yang sampai berhutang,” paparnya.
Ancaman itu akan selalu kembali menghantui setiap kali musim hujan tiba. “Was-was kalau pas musim hujan, apalagi hujannya berjam-jam,” tutup Usup, mewakili perasaan seluruh komunitas di Kampung Gempol.
Epilog: Sebuah Panggilan untuk Tindakan Nyata
Potret di RA, MD, dan MTs Miftahul Barokah adalah cermin dari masalah yang lebih besar: ketimpangan akses pendidikan yang aman dan layak. Anak-anak ini memiliki semangat belajar yang membara, tetapi mereka dipaksa untuk berjuang di medan yang berbahaya. Mereka bukan membutuhkan janji, tetapi tindakan nyata dan solusi yang cepat dan berkelanjutan.
Mereka berhak merasakan sekolah yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga melindungi. Mereka berhak untuk mengejar cita-cita tanpa harus menebak-nebak, apakah atap di atas kepala mereka akan bertahan atau tidak esok hari. Saatnya negara hadir untuk memastikan bahwa tidak ada lagi anak bangsa yang harus bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan ilmu.





