, ,

Amukan Alam Tak Kenal Henti, Sukabumi Porak-Poranda dalam 8 Bulan

oleh -527 Dilihat

Cuaca Ekstrem Guncang Sukabumi, Kerugian Mencapai Rp1,87 Miliar dalam 8 Bulan: BPBD Galakkan Strategi Mitigasi Terpadu

Sukabumi- kembali diingatkan akan betapa rentannya wilayah ini terhadap Amukan Alam. Data terbaru yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi membuka mata publik dalam kurun waktu 8 Bulan pertama tahun 2025 saja, telah terjadi 148 peristiwa bencana yang melanda berbagai penjuru kota. Kerugian material yang diderita masyarakat dan pemerintah ditaksir telah membengkak hingga Rp1,87 miliar, sebuah angka yang menggambarkan betapa seriusnya dampak yang terjadi.

Amukan Alam Tak Kenal Henti, Sukabumi Porak-Poranda dalam 8 Bulan
Amukan Alam Tak Kenal Henti, Sukabumi Porak-Poranda dalam 8 Bulan

Baca Juga : Insan Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan, Raih Emas dan Perunggu di Kejurda Atletik 2025

Secara rinci, Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Novian Rahmat Taufik, memaparkan bahwa cuaca ekstrem menjadi biang keladi utama dari rangkaian musibah ini. Sebanyak 63 kejadian cuaca ekstmem tercatat, disusul oleh banjir (53 kasus), tanah longsor (19 kasus), kebakaran permukiman (10 kasus), dan angin putting beliung (3 kasus). “Dari segi kerugian material, cuaca ekstrem juga yang paling dominan, menyedana anggaran hingga Rp1,13 miliar,” jelas Novian.

Dampak Sosial yang Mengkhawatirkan

Di balik angka-angka statistik yang terkesan dingin, tersimpan cerita pilu ratusan warga Sukabumi. Data BPBD mencatat, tidak kurang dari 170 Kepala Keluarga (KK) atau setara dengan 202 jiwa harus merasakan dampak langsung dari bencana ini. Kondisi tempat tinggal mereka pun memprihatinkan, dengan total 222 bangunan mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan. Rinciannya, 3 unit rusak berat, 17 unit rusak sedang, dan 202 unit lainnya rusak ringan.

Kawasan Rawan dan Puncak Bencana

Analisis sebaran lokasi menunjukkan bahwa Kecamatan Warudoyong merupakan wilayah yang paling sering diterpa bencana dengan 32 kejadian. Wilayah ini diikuti oleh Kecamatan Baros (26 kejadian), Cibeureum (22 kejadian), serta Citamiang dan Lembursitu yang masing-masing mencatatkan 18 kejadian. Gunungpuyuh dan Cikole menyusul dengan 17 dan 15 kejadian.

Sementara dari sisi waktu, Maret 2025 tercatat sebagai bulan paling kelam dengan 39 kasus bencana. Mei menjadi bulan dengan aktivitas bencana tertinggi kedua (37 kasus), diikuti April (23 kasus), dan Januari (22 kasus). Meski Agustus relatif lebih rendah dengan 9 kejadian, mayoritas masih didominasi oleh cuaca ekstrem.

Longsor dan Banjir Penyumbang Kerugian Besar

Meskipun frekuensinya lebih rendah, bencana tanah longsor ternyata menyumbang kerugian finansial yang sangat signifikan, yaitu Rp542 juta. Sementara itu, banjir menyebabkan kerugian sekitar Rp92,8 juta, kebakaran permukiman Rp88 juta, dan angin putting beliung Rp23,1 juta. Total luas lahan yang terdampak dari seluruh bencana ini mencapai 2.451 hektare, menunjukkan skala kerusakan yang cukup luas pada lingkungan.

Memperkuat Benteng Pertahanan Bersama

Menyikapi tingginya kerentanan ini, BPBD Kota Sukabumi tidak tinggal diam. Sejumlah langkah proaktif telah dan akan terus digencarkan. Strategi utamanya adalah dengan memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan dini dari tingkat masyarakat hingga sekolah-sekolah.

“Kami telah secara intens melakukan sosialisasi kebencanaan di berbagai sekolah, mengadakan pelatihan mitigasi praktis, serta membentuk posko kolaborasi siaga bencana yang melibatkan berbagai elemen masyarakat,” ujar Novian.

Ia menegaskan bahwa filosofi utama penanggulangan bencana adalah tanggung jawab kolektif. “Kesiapsiagaan masyarakat adalah kunci utama. Penanggulangan bencana bukanlah tugas pemerintah semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat. Dengan gotong royong dan kewaspadaan yang tinggi, kita dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan,” pungkas Novian menutup pernyataannya.

Upaya BPBD ini diharapkan dapat membangun ketahanan masyarakat Sukabumi dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang, mengubahnya dari sekadar korban menjadi pihak yang tangguh dan siap siaga.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.